
BOLENG – Inovasi ramah lingkungan kembali lahir dari tangan kreatif pelajar di Nusa Tenggara Timur. Kali ini, siswa kelas X SMA Muhammadiyah Boleng berhasil mengembangkan Pupuk Organik Cair (POC) berbahan dasar daun mangrove kering. Produk ini menjadi bukti nyata penerapan pembelajaran berbasis proyek yang mengedepankan solusi atas isu lingkungan di wilayah pesisir.
Pemanfaatan Limbah Pesisir
Kegiatan ini diawali dengan pengumpulan bahan baku utama, yaitu daun mangrove kering yang banyak berserakan di sekitar pantai Boleng. Alih-alih dibiarkan menjadi sampah, para siswa mengumpulkan dedaunan tersebut untuk diolah menjadi nutrisi tanaman yang bernilai tinggi.
Proses pengolahan dimulai dengan pencacahan bahan, pencampuran dengan bioaktivator, dan penyimpanannya dalam wadah tertutup. Tahap yang paling menentukan adalah masa fermentasi selama 21 hari. Selama kurun waktu tersebut, mikroorganisme bekerja mengurai materi organik secara anaerob hingga menghasilkan cairan berwarna pekat yang kaya akan unsur hara.
Uji Coba dan Manfaat Nyata
Setelah melewati masa inkubasi selama tiga minggu, POC hasil karya siswa kelas X ini telah melalui tahap uji coba terbatas pada tanaman di lingkungan sekolah. Hasilnya menunjukkan pertumbuhan vegetatif yang lebih cepat dan warna daun yang lebih segar dibandingkan sebelum pemberian pupuk.
Keunggulan POC daun mangrove ini meliputi:
- Kandungan Alami: Mengandung mineral penting dari ekosistem pesisir.
- Ramah Lingkungan: Mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia sintetis.
- Ekonomis: Memanfaatkan limbah yang tersedia gratis di alam sekitar.
Menuju Deep Learning yang Bermakna
Proyek ini bukan sekadar tugas sekolah, melainkan implementasi dari prinsip Deep Learning. Para siswa tidak hanya belajar teori kimia di balik fermentasi, tetapi juga membangun kesadaran akan potensi sumber daya alam lokal.
“Melalui praktik langsung ini, siswa belajar bahwa kimia itu ada di sekitar kita, sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan bisa menjadi solusi bagi masyarakat,” ujar salah satu perwakilan sekolah.
Dengan keberhasilan ini, SMA Muhammadiyah Boleng berharap produk POC tersebut dapat terus dikembangkan agar bisa digunakan secara lebih luas oleh petani lokal di wilayah Boleng dan sekitarnya.




